Nyawa

Senin, 27 Juli 2009, siang menjelang sore. Aku duduk merapat ke dinding rumah. Hampir semua kursi sekarang menyingkir dari tengah ruangan. Puluhan kursi sudah kami tata dengan rapi di dalam rumah, maupun di halaman depan. Foto yang terbingkai frame warna gelap sudah kubuatkan dan kupajang di tempat yang seharusnya. Sebentar-sebentar datang kerabat dan kami harus menyambutnya… tidak gampang dilakukan dalam situasi seperti itu. Harusnya hari ini cukup melelahkan dan begitu menguras emosi, tapi kini semua tak terasa lagi. Aku duduk dan diam.

Aku menatap lelah ke tengah ruangan. Di hadapanku, di tengah ruangan itu, telah ditempatkan satu peti putih dengan beberapa hiasan bunga pada sisi dalam. Di dalam peti terbujur kaku tubuh kakakku… tak bernyawa. Aku menatapnya. Aku diam, dia diam. Dalam hati berharap bisa bercakap-cakap.
Rasanya hari ini berjalan lebih cepat dari biasanya. Pagi itu ia berangkat ke rumah sakit untuk persiapan tindakan pada pembuluh darahnya sesuai yang direncanakan. Masuk ruang ICU sesuai dengan prosedur. Hanya saja menit-menit berikutnya bergejolak tanpa diduga, keadaan darurat tiba-tiba menyergap. Tubuhnya tak sekuat yang dibayangkan. Istri yang berada di sampingnya mengharapkan keadaan buruk itu dapat dilewati dan tindakan medis akan membantu tubuhnya menjadi lebih baik. Tapi, agaknya, ia tahu bahwa yang akan terjadi adalah sebaliknya. Karena itu ia menggenggam tangan istrinya dan berkata “Aku titip anak-anak, ya.” Dua jam setelah itu, kami dengan beberapa mobil dan sebuah ambulan membawa jenazahnya kembali ke rumah.

Jam beranjak pelan menuju tengah malam. Sesekali kutengok isi peti itu, memastikan keadaan jenazah baik-baik saja. Tanpa kusadari aku sesekali mengamati dadanya, berharap dapat melihat gerakan naik turun tanda ia sedang bernafas. “Siapa tahu orang-orang salah mengira, sebetulnya napasnya hanya tertahan bebrapa waktu ketika dinyatakan meninggal,” pikirku. Tapi ternyata dia tetap diam. Kaku, tak bernyawa.

“Nyawa”, kata itu muncul dalam benakku. Betapa hebatnya bentuk ciptaan Tuhan itu. Apak bentuknya? Aku tidak tahu. Sekalipun aku bernyawa, aku tidak tahu. Aku tidak dapat membedakan nyawa dengan tubuh. Keduanya merekat begitu erat. Saat kau tidur dan tidak menyadari keadaanmu, nyawamu tidak pernah lepas dari tubuhmu. Engkaupun sering berpikir bahwa nyawa itu adalah bagian dari tubuhmu. Aku pun agaknya pernah berpikiri demikian. Tapi saat kutatap jenazah, tubuh tak bernyawa itu, aku jadi sadar penuh bahwa tubuh dan nyawa adalah dua hal yang berbeda sekali, tapi terikat erat satu sama lain. Hanya kejadian tragislah yang dapat memisahkan keduanya.

Subuh tiba dan aku merebahkan badan, beristirahat, mempersiapkan diri untuk kesibukan selanjutnya. Kepala kurebahkan. “Berkurang satu lagi”, pikirku sambil menghitung jumlah keluargaku, ayah, ibu dan 6 orang kakak beradik. Delapan orang semuanya dan selama bertahun-tahun kami bersama. Hari ini jumlah kamipun berkurang, tinggal 6 orang. Ibu wafat 3 tahun lalu. Dan sekarang satu kakakku. Selama ini aku selalu menghitung usia dengan menambahkannya. Tapi saat ini aku menghitung mundur, tinggal 6 orang. Ya ampun, berapa kali lagi kesedihan seperti ini yang harus aku telan?

Selasa, 28 Juli 2009, siang menjelang sore. Aku menyaksikan peti putih itu perlahan diturunkan ke liang lahat. Bunga ditaburkan, dan peti mulai ditimbun dengan tanah. Satu jam sebelumnya saat peti jenazah ditutup, adalah waktu yang paling menyedihkan. Itulah saat terakhir aku dapat menyaksikan wajah almarhum, dan itulah perpisahan yg sesungguhnya. Kemarin ia terpisah dari nyawanya, tapi aku masih membawa tubuhnya. Hari ini, tubuhnya pun harus dipisahkan dari pandangan mata, dipetikan dan dibenam dalam tanah.

Peti putih tertutup tanah sepenuhnya. Hati lebih ringan rasanya. Tubuhnya yang dikubur akan rusak dan menyatu dengan tanah, tapi nyawanya, di mana kah ia sekarang? Aku menatap langit. Ingin sekali aku bertanya, “Hei, apakah kamu sudah bertemu Ibu di atas sana? Kalian baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan saat melihat kami berdiri di sisi kuburan ini?”
Tapi jawaban tak akan pernah datang untuk pertanyaan seperti itu. Dunia dengan tubuh… dan dunia tanpa tubuh, terpisah. Yang bisa dilakukan adalah meyakinkan diri sendiri. “Ah, kalian pasti baik-baik saja di sana. Suatu saat kita ketemu lagi kok….”

Hendrik Petrus Nikijuluw, 4 Juli 1964 - 27 Juli 2009

Hendrik Petrus Nikijuluw, 4 Juli 1964 - 27 Juli 2009

Tulisan ini, kutuliskan untuk mengenang Kakak yang kami kasihi, Hendrik Petrus Nikijuluw. Dan juga untuk mengingat, bahwa hari ini, 15 Agustus, adalah hari ulang tahun Ibu yang kami cintai. I do miss you both.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.