Entah di siaran televisi lokal, tapi di siaran televisi berbayar yang ku tonton beberapa hari ini, mengumandangkan gerakan Earth Hour dimana penduduk bumi diajak bersama-sama menghentikan penggunaan listrik selama 1 jam. Dimulai pukul 20:30, diakhiri pukul 21:30 untuk masing-masing wilayah waktu. Jadi secara keseluruhan, jika dihitung mengitari bumi, gerakan ini berdurasi 60 jam! Aku pun bersemangat menyambutnya.
Sabtu malam, 28 Maret 2009, aku menanti-nantikan pukul 20:30 dengan tidak biasa: berusaha memastikan alat-alat listrik dalam kondisi tidak aktif, mengirim sms ke saudara untuk mengingatkan hal ini, dan menuliskannya di status facebook. Aku membuka situs resmi Earth Hour untuk membaca informasi-informasi yang mungkin perlu aku tahu. Agak membingungkan karena informasi yang kurang jelas. Sebagian mengira bahwa gerakan ini menuntut kita mematikan total penggunaan energi listrik selama 1 jam, sebagian lagi mengira hanya menggunakannya untuk hal yang perlu saja. Jadi aku mengambil jalan tengah, mematikan semua perangkat listrik, kecuali lemari pendingin.
Lima belas menit menjelang pukul 20:30, aku memperkirakan hal-hal yang mungkin akan membuat 1 jam ini menjadi kurang nyaman. Satu jam tanpa hiburan, satu jam tanpa hembusan angin dingin AC, satu jam tanpa penerangan. Di situs resmi Earth Hour, ada orang yang bercerita bagaimana ia harus mandi dalam keadaan gelap gulita. Sebegitu perlukah? Aku memutuskan untuk membuat diriku senyaman mungkin melewatinya. Aku siapkan iPod Touch dengan film yang menarik, ini akan membunuh kebosanan selama 1 jam lebih, dan aku buat 1 gelas es sirup yang diimbangi dengan setumpuk es batu, ah… cukup untuk mendiginkan badan selama udara panas yang mungkin menyergap ruangan kamar.
20:30, Earth Hour dimulai dan aku menghibur diri dengan nonton film melalui iPod Touch, cukup efektif melewati waktu-waktu tanpa listrik. Setengah jam berlalu dan aku memutuskan untuk mendokumentasikan keadaan sekitar. Kuambil camera digital dan naik ke teras atas. Dan betapa terkejutnya aku menemukan lingkungan sekitarku tidak berbeda dengan hari-hari biasa. Lampu-lampu menyala seperti biasa, sayup-sayup terdengar musik dari perangkat stereo. Don’t they know?
Aku terpana… dan termenung. Betapa sulitnya menyelamatkan tanah tempat kita berpijak. Aku ingat berita-berita di televisi… ketika bencana alam terjadi dan tampil wajah-wajah penuh tangis meminta pertolongan, bahkan ada yang marah menyalahkan pihak-pihak yang lambat memberikan pertolongan. Aku ingat, kata-kata yang selalu didengungkan selama ini, bencana alam selalu dianggap sebagai cobaan… tapi pernakah disebutkan bencana alam sebagai akibat dari kesalahan kita sendiri?
Jika saja, kita lebih lantang menyuarakan kehancuran tanah kita sendiri. Jika saja bukan hanya kata-kata penghiburan yang muncul disetiap kejadian bencana alam, tapi juga kata-kata yang mengingatkan pada kesalahan sendiri.
Bodohkah aku dengan ikut serta memadamkan perangkat listrik? Tidak… aku tidak bodoh. Orang bodoh adalah orang yang tidak belajar dari kesalahan. Orang bodoh adalah orang yang tahu kalau perbuatannya dapat menyebabkan bencana, tapi tetap melakukannya. Saat banjir sudah berkali-kali melanda rumahnya, orang bodoh berkata, “Ini cobaan Tuhan”.
