Tertunduk, ternyata bisa menjadi satu kata dengan banyak makna. Entah itu yang berhubungan dengan keadaan fisik, bahkan seringkali merupakan gambaran emosi. Aku mendapat pelajaran menarik dari satu kegiatan ini: tertunduk.
Seorang tua dengan badannya yang renta, atau seorang yang berbadan gemuk, seringkali kelelahan akibat kegiatan fisiknya. Dan seringkali ketika mereka melepas lelah pada sebuah kursi, aku menemukan mereka tertunduk. Mereka tertunduk karena lelah, bahkan terkadang disertai dengkur. Aku yang memandangnya sering merasa iba.
Beberapa murid tertunduk di hadapan seorang guru yang sedang memberikan hukuman. Kegelisahan tergambar dari kegiatan tangan mereka. Beberapa meremas alat tulis, beberapa memegang bagian baju seragamnya, dan yang tidak ingin tangannya terlihat “sibuk” tak sadar menggenggam tangannya dengan canggung. Mereka tertunduk, sebagian karena gelisah, sebagian lagi karena rasa takut dan bersalah.
Seorang anak yang tinggal di sebuah kota kecil jarang bergaul dengan lingkungannya. Keadaan miskin orang tuanya membuat dia sedikit enggan untuk membuka diri. Atau juga mungkin ditambah dengan sifat bawaan pemalu yang ada sejak kecil, aku kurang tahu. Yang jelas, kemana pun ia berjalan, ke sekolah, ke warung dekat rumah, ke pusat perbelanjaan, dia lebih sering berjalan dengan kepala tertunduk malu. Remaja iseng yang tinggal di area tempat ia tinggal sering menggoda dengan teriakan, “Oi, apakah puntung rokoknya sudah ketemu?” Tertunduk, bisa jadi karena rasa malu, atau rasa rendah diri.
Patung pemikir yang terkenal itu juga digambarkan dengan seorang yang tertunduk. Agaknya, inilah gerak kepala yang umum bagi orang yang sedang berpikir atau merenung.
Selama ini aku menganggap ‘tertunduk’ adalah hal yang biasa-biasa saja, sampai suatu sore ketika aku bersandar pada jendela busway dalam perjalanan pulang dari kantor. Sebuah motor melanggar aturan lalu lintas dan berbelok memotong jalur busway, padahal jarak antara motor dan busway kurang dari tiga meter. Beruntung kejadian itu terjadi di perempatan dengan lampu lalu lintas yang sedang menyala merah sehingga kecepatan busway tidak seberapa. Sebuah motor lain masuk dari sebuah jalan kecil ke jalan utama tanpa melihat situasi dan nyaris tertabrak oleh sebuah sedan taxi. Beberapa kendaraan bermotor menyerobot lampu merah ketika mendapatkan peluang.
Semua pelanggaran lalu lintas itu nyaris menyebabkan terjadinya kecelakaan dan terjadi di hadapan seorang petugas polisi. Ia ada di pojok perempatan jalan yang dapat terlihat dari keempat arah jalan. Ia berdiri di sana, lengkap dengan pakaian seragamnya, lengkap dengan topinya. Kejadian motor yang nyaris tertabrak sedan taxi terjadi hanya 2 meter dari tempat ia berdiri, tapi tak bisa disaksikannya, karena ia sedang tertunduk… bukan karena lelah, bukan karena gelisah dan takut… bukan pula karena rasa malu. Ia tertunduk menatap handphone yang ada di genggaman tangannya, sedang asyik mengirim sms.
Aku tersentak dan merenung. Jika tidak ada keberuntungan, berapa kecelakaan yang akan terjadi? Biasanya aku melihat orang tertunduk karena keadaan emosi yang tak membuatnya kuat untuk menegakkan kepala, tapi kali ini aku melihat orang tertunduk karena kelalaiannya.
Orang yang duduk lelah, tertunduk dan tertidur dengan harapan akan lebih bugar untuk kegiatan selanjutnya. Sang guru, mengharapkan penyesalan dari murid-muridnya yang tertunduk merasa bersalah ketika menghadapi hukuman. Sang pemalu berjalan tertunduk berharap tak ada orang yang memperhatikannya. Pemikir, tertunduk berharap menemukan pemecahan masalahnya. Semua dilakukan dengan sebuah harapan. Tapi apa yang bisa diharapkan dari seorang polisi yang tertunduk menulis sms pada saat ia bertugas mengatur lalu lintas?