Satu Dua Putaran

Satu putaran… dua putaran, mengapa diperdebatkan? Dua bisa baik, satu pun bisa baik. Satu lebih praktis, tapi dua kali bisa lebih murni. Dua bisa merupakan pemborosan, satu pun bisa tidak efisien.

Cucian yang dicuci dengan sabun cuci, akan dibilas dengan air bersih. Sang pemalas akan membilasnya sekali. Perfeksionis akan membilasnya berkali-kali hingga tak tampak sisa sabun cuci. Dalam skala umum, orang akan mengangguk setuju, bahwa lebih dari sekali akan lebih baik.

Aku terpana pada sebuah iklan televisi yang menggambarkan betapa baiknya sebuah produk minyak goreng. Minyak diminum dan ditelan dengan tidak mengganggu tenggorokan sang bintang iklan. “Dua kali penyaringan”, demikian slogan yang didengungkan. Katanya, dua kali penyaringan adalah produk yang lebih baik.

Penemu lampu pijar, mencoba… mencoba, dan mencoba berkali-kali untuk sampai pada penemuan yang luar biasa. Tapi Apolo yang terkenal itu, ketika meluncur, hanya punya satu kesempatan untuk bisa menembus lapisan oksigen bumi hingga sampai di orbit yang ditetapkan. Ada yang harus berkali-kali, ada yang harus sekali.

Satu putaran… dua putaran, mengapa diperdebatkan? Semuanya baik.

Aku teringat pada sebuah kejadian sekitar setahun lalu. Ada perlombaan membuat logo dari sebuah komunitas. Sejak awal, semua aturan telah disebarkan lewat mailing list. Beberapa yang ingin berkompetisi mengirimkan karyanya lewat email. Karya-karya yang masuk ditampilkan pada sebuah situs, dan setiap orang memilih. Karya yang paling banyak dipilih akan menjadi pemenang.
Bererapa orang yang aktif pada komunitas itu mengomentari dan berusaha memberikan dukungan pada karya-karya tertentu. Sayangnya, suara anggota yang kurang aktif lebih banyak dan memilih karya yang tak “diunggulkan” sebelumnya. Setelah pemenang ditentukan, anggota aktif mulai mengumandangkan suara ketidakpuasan. Ketidakpuasan akhirnya memunculkan ide untuk melakukan penilaian dengan dua tahap, tiga karya dengan suara terbanyak dikompetisikan lagi. Semua diusulkan seolah aturan-aturan yang ditetapkan berminggu-minggu sebelumnya tidak pernah ada. Mereka tidak terima dengan kekalahan.

Pernahkan engkau mendengar akhir-akhir ini ada orang berkumandang, “Tidak mau kompetisi dua kali sama dengan takut kalah”? Aku mendengarnya, dan terkenang akan kompetisi setahun lalu itu. Pernyataan itu berbeda sekali dengan pengalamanku. Pengalamanku mengajarku, bahwa saat kekalahan menimpa, pihak tak puas justru menuntut kompetisi dilakukan dua kali. “Semoga yang kedua ini ada kesempatan menang”, begitu mungkin pikirnya.

Satu atau dua, mana yang lebih baik? Aku punya dua kaki, maka seimbanglah jalanku. Aku mempunyai dua tangan maka baiklah kerjaku. Dua telinga, dua mata. Dua, demikian mereka diciptakan Tuhan, dan itu baik. Tapi Tuhan yang sama juga menciptakan hanya satu jantung, dan satu itu sudah sempurna menurutNya.

Satu putaran… dua putaran. Semuanya baik. Mengapa diributkan? Makin kerap kau ributkan, kian kuat keyakinanku tentang siapa yang takut kalah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.