<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jika</title>
	<atom:link href="http://davidmarkus.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://davidmarkus.wordpress.com</link>
	<description>...saat berandai-andai</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Aug 2011 08:32:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='davidmarkus.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jika</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://davidmarkus.wordpress.com/osd.xml" title="Jika" />
	<atom:link rel='hub' href='http://davidmarkus.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nyawa</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/08/15/nyawa/</link>
		<comments>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/08/15/nyawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 21:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidmarkus.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 27 Juli 2009, siang menjelang sore. Aku duduk merapat ke dinding rumah. Hampir semua kursi sekarang menyingkir dari tengah ruangan. Puluhan kursi sudah kami tata dengan rapi di dalam rumah, maupun di halaman depan. Foto yang terbingkai frame warna gelap sudah kubuatkan dan kupajang di tempat yang seharusnya. Sebentar-sebentar datang kerabat dan kami harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=50&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin, 27 Juli 2009, siang menjelang sore. Aku duduk merapat ke dinding rumah. Hampir semua kursi sekarang menyingkir dari tengah ruangan. Puluhan kursi sudah kami tata dengan rapi di dalam rumah, maupun di halaman depan. Foto yang terbingkai frame warna gelap sudah kubuatkan dan kupajang di tempat yang seharusnya. Sebentar-sebentar datang kerabat dan kami harus menyambutnya&#8230; tidak gampang dilakukan dalam situasi seperti itu. Harusnya hari ini cukup melelahkan dan begitu menguras emosi, tapi kini semua tak terasa lagi. Aku duduk dan diam.</p>
<p>Aku menatap lelah ke tengah ruangan. Di hadapanku, di tengah ruangan itu, telah ditempatkan satu peti putih dengan beberapa hiasan bunga pada sisi dalam. Di dalam peti terbujur kaku tubuh kakakku&#8230; tak bernyawa. Aku menatapnya. Aku diam, dia diam. Dalam hati berharap bisa bercakap-cakap.<br />
Rasanya hari ini berjalan lebih cepat dari biasanya. Pagi itu ia berangkat ke rumah sakit untuk persiapan tindakan pada pembuluh darahnya sesuai yang direncanakan. Masuk ruang ICU sesuai dengan prosedur. Hanya saja menit-menit berikutnya bergejolak tanpa diduga, keadaan darurat tiba-tiba menyergap. Tubuhnya tak sekuat yang dibayangkan. Istri yang berada di sampingnya mengharapkan keadaan buruk itu dapat dilewati dan tindakan medis akan membantu tubuhnya menjadi lebih baik. Tapi, agaknya, ia tahu bahwa yang akan terjadi adalah sebaliknya. Karena itu ia menggenggam tangan istrinya dan berkata &#8220;Aku titip anak-anak, ya.&#8221; Dua jam setelah itu, kami dengan beberapa mobil dan sebuah ambulan membawa jenazahnya kembali ke rumah.</p>
<p>Jam beranjak pelan menuju tengah malam. Sesekali kutengok isi peti itu, memastikan keadaan jenazah baik-baik saja. Tanpa kusadari aku sesekali mengamati dadanya, berharap dapat melihat gerakan naik turun tanda ia sedang bernafas. &#8220;Siapa tahu orang-orang salah mengira, sebetulnya napasnya hanya tertahan bebrapa waktu ketika dinyatakan meninggal,&#8221; pikirku. Tapi ternyata dia tetap diam. Kaku, tak bernyawa.</p>
<p>&#8220;Nyawa&#8221;, kata itu muncul dalam benakku. Betapa hebatnya bentuk ciptaan Tuhan itu. Apak bentuknya? Aku tidak tahu. Sekalipun aku bernyawa, aku tidak tahu. Aku tidak dapat membedakan nyawa dengan tubuh. Keduanya merekat begitu erat. Saat kau tidur dan tidak menyadari keadaanmu, nyawamu tidak pernah lepas dari tubuhmu. Engkaupun sering berpikir bahwa nyawa itu adalah bagian dari tubuhmu. Aku pun agaknya pernah berpikiri demikian. Tapi saat kutatap jenazah, tubuh tak bernyawa itu, aku jadi sadar penuh bahwa tubuh dan nyawa adalah dua hal yang berbeda sekali, tapi terikat erat satu sama lain. Hanya kejadian tragislah yang dapat memisahkan keduanya.</p>
<p>Subuh tiba dan aku merebahkan badan, beristirahat, mempersiapkan diri untuk kesibukan selanjutnya. Kepala kurebahkan. &#8220;Berkurang satu lagi&#8221;, pikirku sambil menghitung jumlah keluargaku, ayah, ibu dan 6 orang kakak beradik. Delapan orang semuanya dan selama bertahun-tahun kami bersama. Hari ini jumlah kamipun berkurang, tinggal 6 orang. Ibu wafat 3 tahun lalu. Dan sekarang satu kakakku. Selama ini aku selalu menghitung usia dengan menambahkannya. Tapi saat ini aku menghitung mundur, tinggal 6 orang. Ya ampun, berapa kali lagi kesedihan seperti ini yang harus aku telan?</p>
<p>Selasa, 28 Juli 2009, siang menjelang sore. Aku menyaksikan peti putih itu perlahan diturunkan ke liang lahat. Bunga ditaburkan, dan peti mulai ditimbun dengan tanah. Satu jam sebelumnya saat peti jenazah ditutup, adalah waktu yang paling menyedihkan. Itulah saat terakhir aku dapat menyaksikan wajah almarhum, dan itulah perpisahan yg sesungguhnya. Kemarin ia terpisah dari nyawanya, tapi aku masih membawa tubuhnya. Hari ini, tubuhnya pun harus dipisahkan dari pandangan mata, dipetikan dan dibenam dalam tanah.</p>
<p>Peti putih tertutup tanah sepenuhnya. Hati lebih ringan rasanya. Tubuhnya yang dikubur akan rusak dan menyatu dengan tanah, tapi nyawanya, di mana kah ia sekarang? Aku menatap langit. Ingin sekali aku bertanya, &#8220;Hei, apakah kamu sudah bertemu Ibu di atas sana? Kalian baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan saat melihat kami berdiri di sisi kuburan ini?&#8221;<br />
Tapi jawaban tak akan pernah datang untuk pertanyaan seperti itu. Dunia dengan tubuh&#8230; dan dunia tanpa tubuh, terpisah. Yang bisa dilakukan adalah meyakinkan diri sendiri. &#8220;Ah, kalian pasti baik-baik saja di sana. Suatu saat kita ketemu lagi kok&#8230;.&#8221;</p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_51" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><em><em><a href="http://davidmarkus.files.wordpress.com/2009/08/hengky_photo_small.jpg"><img class="size-full wp-image-51 " title="Hendrik Petrus Nikijuluw" src="http://davidmarkus.files.wordpress.com/2009/08/hengky_photo_small.jpg?w=200&#038;h=256" alt="Hendrik Petrus Nikijuluw, 4 Juli 1964 - 27 Juli 2009" width="200" height="256" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">Hendrik Petrus Nikijuluw, 4 Juli 1964 - 27 Juli 2009</p></div>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tulisan ini, kutuliskan untuk mengenang Kakak yang kami kasihi, Hendrik Petrus Nikijuluw. Dan juga untuk mengingat, bahwa hari ini, 15 Agustus, adalah hari ulang tahun Ibu yang kami cintai. I do miss you both.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidmarkus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidmarkus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidmarkus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidmarkus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidmarkus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidmarkus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidmarkus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidmarkus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidmarkus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidmarkus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidmarkus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidmarkus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidmarkus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidmarkus.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=50&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/08/15/nyawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2b06d1102a0ed8f290c3960dec8dcd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">David</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://davidmarkus.files.wordpress.com/2009/08/hengky_photo_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hendrik Petrus Nikijuluw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Dua Putaran</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/07/07/satu-dua-putaran/</link>
		<comments>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/07/07/satu-dua-putaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 18:05:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidmarkus.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Satu putaran... dua putaran... sekarang beberapa pihak memperdebatkan. Orang-orang mempertimbangkannya berdasarkan analisa. Tapi aku melihatnya dari pengalaman pribadi.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=39&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu putaran&#8230; dua putaran, mengapa diperdebatkan? Dua bisa baik, satu pun bisa baik. Satu lebih praktis, tapi dua kali bisa lebih murni. Dua bisa merupakan pemborosan, satu pun bisa tidak efisien.</p>
<p>Cucian yang dicuci dengan sabun cuci, akan dibilas dengan air bersih. Sang pemalas akan membilasnya sekali. Perfeksionis akan membilasnya berkali-kali hingga tak tampak sisa sabun cuci. Dalam skala umum, orang akan mengangguk setuju, bahwa lebih dari sekali akan lebih baik.</p>
<p>Aku terpana pada sebuah iklan televisi yang menggambarkan betapa baiknya sebuah produk minyak goreng. Minyak diminum dan ditelan dengan tidak mengganggu tenggorokan sang bintang iklan. &#8220;Dua kali penyaringan&#8221;, demikian slogan yang didengungkan. Katanya, dua kali penyaringan adalah produk yang lebih baik.</p>
<p>Penemu lampu pijar, mencoba&#8230; mencoba, dan mencoba berkali-kali untuk sampai pada penemuan yang luar biasa. Tapi Apolo yang terkenal itu, ketika meluncur, hanya punya satu kesempatan untuk bisa menembus lapisan oksigen bumi hingga sampai di orbit yang ditetapkan. Ada yang harus berkali-kali, ada yang harus sekali.</p>
<p>Satu putaran&#8230; dua putaran, mengapa diperdebatkan? Semuanya baik.</p>
<p>Aku teringat pada sebuah kejadian sekitar setahun lalu. Ada perlombaan membuat logo dari sebuah komunitas. Sejak awal, semua aturan telah disebarkan lewat mailing list. Beberapa yang ingin berkompetisi mengirimkan karyanya lewat email. Karya-karya yang masuk ditampilkan pada sebuah situs, dan setiap orang memilih. Karya yang paling banyak dipilih akan menjadi pemenang.<br />
Bererapa orang yang aktif pada komunitas itu mengomentari dan berusaha memberikan dukungan pada karya-karya tertentu. Sayangnya, suara anggota yang kurang aktif lebih banyak dan memilih karya yang tak &#8220;diunggulkan&#8221; sebelumnya. Setelah pemenang ditentukan, anggota aktif mulai mengumandangkan suara ketidakpuasan. Ketidakpuasan akhirnya memunculkan ide untuk melakukan penilaian dengan dua tahap, tiga karya dengan suara terbanyak dikompetisikan lagi. Semua diusulkan seolah aturan-aturan yang ditetapkan berminggu-minggu sebelumnya tidak pernah ada. Mereka tidak terima dengan kekalahan.</p>
<p>Pernahkan engkau mendengar akhir-akhir ini ada orang berkumandang, &#8220;Tidak mau kompetisi dua kali sama dengan takut kalah&#8221;? Aku mendengarnya, dan terkenang akan kompetisi setahun lalu itu. Pernyataan itu berbeda sekali dengan pengalamanku. Pengalamanku mengajarku, bahwa saat kekalahan menimpa, pihak tak puas justru menuntut kompetisi dilakukan dua kali. &#8220;Semoga yang kedua ini ada kesempatan menang&#8221;, begitu mungkin pikirnya.</p>
<p>Satu atau dua, mana yang lebih baik? Aku punya dua kaki, maka seimbanglah jalanku. Aku mempunyai dua tangan maka baiklah kerjaku. Dua telinga, dua mata. Dua, demikian mereka diciptakan Tuhan, dan itu baik. Tapi Tuhan yang sama juga menciptakan hanya satu jantung, dan satu itu sudah sempurna menurutNya.</p>
<p>Satu putaran&#8230; dua putaran. Semuanya baik. Mengapa diributkan? Makin kerap kau ributkan, kian kuat keyakinanku tentang siapa yang takut kalah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidmarkus.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidmarkus.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidmarkus.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidmarkus.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidmarkus.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidmarkus.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidmarkus.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidmarkus.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidmarkus.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidmarkus.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidmarkus.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidmarkus.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidmarkus.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidmarkus.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=39&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/07/07/satu-dua-putaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2b06d1102a0ed8f290c3960dec8dcd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">David</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tertunduk</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/06/28/tertunduk/</link>
		<comments>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/06/28/tertunduk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 21:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[busway]]></category>
		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidmarkus.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Tertunduk, ternyata bisa menjadi satu kata dengan banyak makna. Entah itu yang berhubungan dengan keadaan fisik, bahkan seringkali merupakan gambaran emosi. Aku mendapat pelajaran menarik dari satu kegiatan ini: tertunduk. Seorang tua dengan badannya yang renta, atau seorang yang berbadan gemuk, seringkali kelelahan akibat kegiatan fisiknya. Dan seringkali ketika mereka melepas lelah pada sebuah kursi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=33&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tertunduk, ternyata bisa menjadi satu kata dengan banyak makna. Entah itu yang berhubungan dengan keadaan fisik, bahkan seringkali merupakan gambaran emosi. Aku mendapat pelajaran menarik dari satu kegiatan ini: tertunduk.</p>
<p>Seorang tua dengan badannya yang renta, atau seorang yang berbadan gemuk, seringkali kelelahan akibat kegiatan fisiknya. Dan seringkali ketika mereka melepas lelah pada sebuah kursi, aku menemukan mereka tertunduk. Mereka tertunduk karena lelah, bahkan terkadang disertai dengkur. Aku yang memandangnya sering merasa iba.</p>
<p>Beberapa murid tertunduk di hadapan seorang guru yang sedang memberikan hukuman. Kegelisahan tergambar dari kegiatan tangan mereka. Beberapa meremas alat tulis, beberapa memegang bagian baju seragamnya, dan yang tidak ingin tangannya terlihat &#8220;sibuk&#8221; tak sadar menggenggam tangannya dengan canggung. Mereka tertunduk, sebagian karena gelisah, sebagian lagi karena rasa takut dan bersalah.</p>
<p>Seorang anak yang tinggal di sebuah kota kecil jarang bergaul dengan lingkungannya. Keadaan miskin orang tuanya membuat dia sedikit enggan untuk membuka diri. Atau juga mungkin ditambah dengan sifat bawaan pemalu yang ada sejak kecil, aku kurang tahu. Yang jelas, kemana pun ia berjalan, ke sekolah, ke warung dekat rumah, ke pusat perbelanjaan, dia lebih sering berjalan dengan kepala tertunduk malu. Remaja iseng yang tinggal di area tempat ia tinggal sering menggoda dengan teriakan, &#8220;Oi, apakah puntung rokoknya sudah ketemu?&#8221; Tertunduk, bisa jadi karena rasa malu, atau rasa rendah diri.</p>
<p>Patung pemikir yang terkenal itu juga digambarkan dengan seorang yang tertunduk. Agaknya, inilah gerak kepala yang umum bagi orang yang sedang berpikir atau merenung.</p>
<p>Selama ini aku menganggap &#8216;tertunduk&#8217; adalah hal yang biasa-biasa saja, sampai suatu sore ketika aku bersandar pada jendela busway dalam perjalanan pulang dari kantor. Sebuah motor melanggar aturan lalu lintas dan berbelok memotong jalur busway, padahal jarak antara motor dan busway kurang dari tiga meter. Beruntung kejadian itu terjadi di perempatan dengan lampu lalu lintas yang sedang menyala merah sehingga kecepatan busway tidak seberapa. Sebuah motor lain masuk dari sebuah jalan kecil ke jalan utama tanpa melihat situasi dan nyaris tertabrak oleh sebuah sedan taxi. Beberapa kendaraan bermotor menyerobot lampu merah ketika mendapatkan peluang.</p>
<p>Semua pelanggaran lalu lintas itu nyaris menyebabkan terjadinya kecelakaan dan terjadi di hadapan seorang petugas polisi. Ia ada di pojok perempatan jalan yang dapat terlihat dari keempat arah jalan. Ia berdiri di sana, lengkap dengan pakaian seragamnya, lengkap dengan topinya. Kejadian motor yang nyaris tertabrak sedan taxi terjadi hanya 2 meter dari tempat ia berdiri, tapi tak bisa disaksikannya, karena ia sedang tertunduk&#8230; bukan karena lelah, bukan karena gelisah dan takut&#8230; bukan pula karena rasa malu. Ia tertunduk menatap handphone yang ada di genggaman tangannya, sedang asyik mengirim sms.</p>
<p>Aku tersentak dan merenung. Jika tidak ada keberuntungan, berapa kecelakaan yang akan terjadi? Biasanya aku melihat orang tertunduk karena keadaan emosi yang tak membuatnya kuat untuk menegakkan kepala, tapi kali ini aku melihat orang tertunduk karena kelalaiannya.</p>
<p>Orang yang duduk lelah, tertunduk dan tertidur dengan harapan akan lebih bugar untuk kegiatan selanjutnya. Sang guru, mengharapkan penyesalan dari murid-muridnya yang tertunduk merasa bersalah ketika menghadapi hukuman. Sang pemalu berjalan tertunduk berharap tak ada orang yang memperhatikannya. Pemikir, tertunduk berharap menemukan pemecahan masalahnya. Semua dilakukan dengan sebuah harapan. Tapi apa yang bisa diharapkan dari seorang polisi yang tertunduk menulis sms pada saat ia bertugas mengatur lalu lintas?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidmarkus.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidmarkus.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidmarkus.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidmarkus.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidmarkus.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidmarkus.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidmarkus.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidmarkus.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidmarkus.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidmarkus.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidmarkus.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidmarkus.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidmarkus.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidmarkus.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=33&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/06/28/tertunduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2b06d1102a0ed8f290c3960dec8dcd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">David</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>What an Earth Hour</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/03/29/what-an-earth-hour/</link>
		<comments>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/03/29/what-an-earth-hour/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 01:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemanasan Global]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Earth Hour]]></category>
		<category><![CDATA[iPod]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidmarkus.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu malam, 28 Maret 2009,  aku menanti-nantikan pukul 20:30 dengan tidak biasa: berusaha memastikan alat-alat listrik dalam kondisi tidak aktif, mengirim sms ke saudara untuk mengingatkan hal ini, dan menuliskannya di status facebook. Aku membuka situs resmi Earth Hour (http://www.earthhour.org) untuk membaca informasi-informasi yang mungkin perlu aku tahu.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=17&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah di siaran televisi lokal, tapi di siaran televisi berbayar yang ku tonton beberapa hari ini, mengumandangkan gerakan <em><a title="Earth Hour" href="http://www.earthhour.org" target="_blank">Earth Hour</a></em> dimana penduduk bumi diajak bersama-sama menghentikan penggunaan listrik selama 1 jam. Dimulai pukul 20:30, diakhiri pukul 21:30 untuk masing-masing wilayah waktu. Jadi secara keseluruhan, jika dihitung mengitari bumi, gerakan ini berdurasi 60 jam! Aku pun bersemangat menyambutnya.</p>
<p>Sabtu malam, 28 Maret 2009,  aku menanti-nantikan pukul 20:30 dengan tidak biasa: berusaha memastikan alat-alat listrik dalam kondisi tidak aktif, mengirim sms ke saudara untuk mengingatkan hal ini, dan menuliskannya di status <a title="David N's Facebook" href="http://www.facebook.com/notes.php?imported#/profile.php?id=1160604147&amp;ref=profile" target="_blank"><em>facebook</em></a>. Aku membuka situs resmi <em><a title="Earth Hour" href="http://www.earthhour.org" target="_blank">Earth Hour</a></em> untuk membaca informasi-informasi yang mungkin perlu aku tahu. Agak membingungkan karena informasi yang kurang jelas. Sebagian mengira bahwa gerakan ini menuntut kita mematikan total penggunaan energi listrik selama 1 jam, sebagian lagi mengira hanya menggunakannya untuk hal yang perlu saja. Jadi aku mengambil jalan tengah, mematikan semua perangkat listrik, kecuali lemari pendingin.</p>
<p>Lima belas menit menjelang pukul 20:30, aku memperkirakan hal-hal yang mungkin akan membuat 1 jam ini menjadi kurang nyaman. Satu jam tanpa hiburan, satu jam tanpa hembusan angin dingin <em>AC</em>, satu jam tanpa penerangan. Di situs resmi <em><a title="Earth Hour" href="http://www.earthhour.org" target="_blank">Earth Hour</a></em>, ada orang yang bercerita bagaimana ia harus mandi dalam keadaan gelap gulita. Sebegitu perlukah? Aku memutuskan untuk membuat diriku senyaman mungkin melewatinya. Aku siapkan<em> iPod Touch</em> dengan film yang menarik, ini akan membunuh kebosanan selama 1 jam lebih, dan aku buat 1 gelas es sirup yang diimbangi dengan setumpuk es batu, ah&#8230; cukup untuk mendiginkan badan selama udara panas yang mungkin menyergap ruangan kamar.</p>
<p>20:30,<em> <a title="Earth Hour" href="http://www.earthhour.org" target="_blank">Earth Hour</a></em> dimulai dan aku menghibur diri dengan nonton film melalui <em>iPod Touch</em>, cukup efektif melewati waktu-waktu tanpa listrik. Setengah jam berlalu dan aku memutuskan untuk mendokumentasikan keadaan sekitar. Kuambil camera digital dan naik ke teras atas. Dan betapa terkejutnya aku menemukan lingkungan sekitarku tidak berbeda dengan hari-hari biasa. Lampu-lampu menyala seperti biasa, sayup-sayup terdengar musik dari perangkat <em>stereo</em>. <em>Don’t they know?</em></p>
<div id="attachment_24" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://davidmarkus.files.wordpress.com/2009/03/jika_jakarta-in-earth-hour1.jpg"><img class="size-full wp-image-24" title="Jakarta, saat Earth Hour." src="http://davidmarkus.files.wordpress.com/2009/03/jika_jakarta-in-earth-hour1.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Jakarta, saat Earth Hour." width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Jakarta, saat Earth Hour.</p></div>
<p>Aku terpana&#8230; dan termenung. Betapa sulitnya menyelamatkan tanah tempat kita berpijak. Aku ingat berita-berita di televisi&#8230; ketika bencana alam terjadi dan tampil wajah-wajah penuh tangis meminta pertolongan, bahkan ada yang marah menyalahkan pihak-pihak yang lambat memberikan pertolongan. Aku ingat, kata-kata yang selalu didengungkan selama ini, bencana alam selalu dianggap sebagai cobaan&#8230; tapi pernakah disebutkan bencana alam sebagai akibat dari kesalahan kita sendiri?</p>
<p>Jika saja, kita lebih lantang menyuarakan kehancuran tanah kita sendiri. Jika saja bukan hanya kata-kata penghiburan yang muncul disetiap kejadian bencana alam, tapi juga kata-kata yang mengingatkan pada kesalahan sendiri.</p>
<p>Bodohkah aku dengan ikut serta memadamkan perangkat listrik? Tidak&#8230; aku tidak bodoh. Orang bodoh adalah orang yang tidak belajar dari kesalahan. Orang bodoh adalah orang yang tahu kalau perbuatannya dapat menyebabkan bencana, tapi tetap melakukannya. Saat banjir sudah berkali-kali melanda rumahnya, orang bodoh berkata, “Ini cobaan Tuhan”.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidmarkus.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidmarkus.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidmarkus.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidmarkus.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidmarkus.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidmarkus.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidmarkus.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidmarkus.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidmarkus.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidmarkus.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidmarkus.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidmarkus.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidmarkus.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidmarkus.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=17&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidmarkus.wordpress.com/2009/03/29/what-an-earth-hour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2b06d1102a0ed8f290c3960dec8dcd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">David</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://davidmarkus.files.wordpress.com/2009/03/jika_jakarta-in-earth-hour1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jakarta, saat Earth Hour.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Festifal &#8220;science&#8221; anak Indonesia!</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/17/festifal-science-anak-indonesia/</link>
		<comments>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/17/festifal-science-anak-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 07:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[grand indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mall]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah dasar]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidmarkus.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Seorang gadis mungil, anak Sekolah Dasar, menjelaskan bagaimana daun serai (lemongrass) melewati proses penyulingan. Direbus, dilewatkan pada selang yang melalui satu panci berisi air dingin, lantas menetes pada sebuah gelas penampung. “Hasil penyulingan ini dapat digunakan untuk mengusir nyamuk, dengan cara dioleskan di badan misalnya.”, katanya. Seorang gadis mungil lain menjelaskan dengan menunjuk gambar bunga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=11&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang gadis mungil, anak Sekolah Dasar, menjelaskan bagaimana daun serai (lemongrass) melewati proses penyulingan. Direbus, dilewatkan pada selang yang melalui satu panci berisi air dingin, lantas menetes pada sebuah gelas penampung. “Hasil penyulingan ini dapat digunakan untuk mengusir nyamuk, dengan cara dioleskan di badan misalnya.”, katanya. Seorang gadis mungil lain menjelaskan dengan menunjuk gambar bunga dahlia, bahwa bunga itu dapat membersihkan udara dari racun gas CO2. Dan masih banyak lagi anak-anak kecil memenuhi lorong dengan pengetahuan mereka masing-masing, memeragakan dan menjelaskannya kepada pengunjung dewasa!</p>
<p>Ha?</p>
<p>Ya. Beberapa Sekolah Dasar terlibat aktif dengan melibatkan murid-murid mereka melalui salah satu acara di Grand Indonesia. Menampilkan alat-alat peraga sederhana untuk menjelaskan pengetahuan praktis yang dapat kita terapkan di kehidupan sehari-hari. Luar biasa!</p>
<p>Aku merasa kagum dan iri sekaligus. Kagum karena anak-anak kecil ini begitu percaya diri menjelaskan apa yang mereka tahu kepada pengunjung dewasa. Iri karena masa kecilku tidak secanggih itu. Terbersit di pikiran, jika saja aku melewati masa kecil seperti itu&#8230; betapa akan menggairahkannya masa sekolahku. Ah, tapi itu sudah lalu. Yang penting sekarang, aku tahu, dengan anak-anak yang pecaya diri atas pengetahuan luar biasa yang mereka miliki, masih ada harapan lebih baik untuk negeri ini di masa depan.</p>
<p>Selamat ulang tahun Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia ke 63!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/davidmarkus.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/davidmarkus.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidmarkus.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidmarkus.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidmarkus.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidmarkus.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidmarkus.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidmarkus.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidmarkus.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidmarkus.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidmarkus.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidmarkus.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidmarkus.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidmarkus.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidmarkus.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidmarkus.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=11&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/17/festifal-science-anak-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2b06d1102a0ed8f290c3960dec8dcd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">David</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masakan Ibu</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/15/masakan-ibu/</link>
		<comments>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/15/masakan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 18:21:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[masakan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidmarkus.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[“Hari ini mau makan apa?” Aku selalu menantikan kalimat itu setiap kali akan pulang ke rumah. Selama berbulan-bulan berada jauh dari rumah, pasti aku kangen dengan masakan Ibu. Dan memang kalimat itu yang sering terlontar dari bibir Ibu setiap kali aku datang. Ibu tahu makanan-makanan kegemaranku, sup kacang merah, tahu bacem, nasi goreng (khusus buatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=8&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Hari ini mau makan apa?”</p>
<p>Aku selalu menantikan kalimat itu setiap kali akan pulang ke rumah. Selama berbulan-bulan berada jauh dari rumah, pasti aku kangen dengan masakan Ibu. Dan memang kalimat itu yang sering terlontar dari bibir Ibu setiap kali aku datang. Ibu tahu makanan-makanan kegemaranku, sup kacang merah, tahu bacem, nasi goreng (khusus buatan Ibu yang tidak bisa aku temukan di tempat lain). Tapi tak urung dia menanyakan pertanyaan itu, kalau-kalau aku ingin menikmati makanan yang berbeda dari daftar makanan kegemaran ku. Bahkan protes sempat terlontar dari Ayahku, saat dia melihat hidangan di meja makan, terhidang hanya makanan kegemaran ku.</p>
<p>Agaknya hal itu tidak berlaku padaku saja. Kakakku bercerita bahwa saat dia mudik, pulang ke rumah, Ibu selalu menawarkan makanan-makanan kegemarannya. Nasi goreng, terutama, karena makanan ini menjadi kegemaran dari setiap kami, anak-anaknya.</p>
<p>Jika saja Ibu masih hidup, pulang ke rumah, menikmati masakannya, menjadi hal yang menyenangkan. Sekarang tidak lagi. Sepi.</p>
<p>Hari ini, aku ingat Ibu ku. Hari ini, hari ulang tahun Ibu ku. I do hope you are happy up there, Mom. I love you.</p>
<p>Untuk Ibu, 15 Agustus 2008.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/davidmarkus.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/davidmarkus.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidmarkus.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidmarkus.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidmarkus.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidmarkus.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidmarkus.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidmarkus.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidmarkus.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidmarkus.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidmarkus.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidmarkus.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidmarkus.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidmarkus.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidmarkus.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidmarkus.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=8&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/15/masakan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2b06d1102a0ed8f290c3960dec8dcd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">David</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Introduksi</title>
		<link>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/14/introduksi/</link>
		<comments>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/14/introduksi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 17:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidmarkus.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Jika adalah kata yang bisa menjadikan kalimat banyak bermakna.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=3&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika adalah kata yang bisa menjadikan kalimat banyak bermakna.</p>
<p>Jika, bisa menggambarkan penyesalan akan masa lalu. Ia bisa menjadi pernyataan bahwa ada pilihan lain yang harusnya bisa dipilih.</p>
<p>Jika, bisa menggambarkan begitu banyaknya pilihan. Ia menunjukkan pada kita pilihan-pilihan yang ada, mungkin sudah pernah terpikirkan, atau mungkin juga belum pernah. Ia bisa membawa kita pada gambaran konsekuensi dari setiap pilihan yang ada, membuat kita lebih bijaksana memilih.</p>
<p>Jika, bisa mengarahkan kita pada pilihan yang memberi harapan pada masa datang. Dalam setiap perencanaan, “jika” selalu menjadi kata yang membawa kita pada alternatif langkah berikutnya.</p>
<p>Kita bisa lebih bijaksana, andai saja sebelum bertindak, kita berhenti sejenak di titik “jika”, untuk melihat pilihan-pilihan yang lain. Itulah yang aku tuangkan di blog ini. Pilihan-pilihan, renungan akan masa lalu yang mungkin disesalkan, dan celah untuk melihat harapan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/davidmarkus.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/davidmarkus.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidmarkus.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidmarkus.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidmarkus.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidmarkus.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidmarkus.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidmarkus.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidmarkus.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidmarkus.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidmarkus.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidmarkus.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidmarkus.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidmarkus.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidmarkus.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidmarkus.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidmarkus.wordpress.com&amp;blog=6593684&amp;post=3&amp;subd=davidmarkus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidmarkus.wordpress.com/2008/08/14/introduksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2b06d1102a0ed8f290c3960dec8dcd2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">David</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
